Perjalanan diri

Ketika keadaan memberi ratusan alasan untuk menyerah, milikilah jutaan alasan untuk bertahan dan berjuang meraih mimpi mimpimu

setengah hari kerja, sampai jam sebelas..?


Judul diatas, memang sebuah pertanyaan bagi saya yang terbiasa dengan aturan yang mainstream berlaku di dunia kerja swasta.
saya ingin berbagi pengalaman saya berhubungan dengan instansi pemerintah, dalam hal ini kepolisian.
Dikarenakan proses pendaftaran dan mutasi kendaraan saya di kabupaten Bogor, sudah selesai, tibalah saya menuju kebagian pengesahan BPKB, (no baru kendaraan sudah didapat).
Tetapi sesampainya di loket yang bertepatan dengan tanda waktu menunjukan jam 11.20, petugas yang jaga diloket, menyatakan sudah tutup sejak jam 11.00. Diapun berdalih memang jam kerjanya adalah sampai jam 11.00 WIB, ketika saya kejar dengan pertanyaan, apakah hal tersebut berlaku secara resmi, dia mengatakan, bahwa aturan ini sudah berlaku lama, bahkan petugas bank yang melayani pembayaran sudah pulang.
Timbul pertanyaan, kalau setengah harinya jam kerja berakhir jam 11.00 WIB, berarti mulai jam kerjanya lebih awal 1 jam, apakah seperti itu, sepertinya perlu dikonfirmasi lagi.


/** hidup sehat **/
var sitti_pub_id = “BC0007730″;
var sitti_ad_width = “300″;
var sitti_ad_height = “250″;
var sitti_ad_type = “1″;
var sitti_ad_number = “3″;
var sitti_ad_name = “hidup sehat”;
var sitti_dep_id = “17849″;

Pengolahan sampah perumahan mandiri


Sampah rumah tangga dalam lingkungan perumahan, sering kali menjadi bibit masalah dalam kehidupan sehari hari.

Bayangkan saja seandainya dalam satu bulan, petugas pengambil sampah tidak bekerja mengambil sampah yang kita tinggalkan di depan rumah kita, pasti akan timbul bau yang tidak sedap, yang dampaknya bukan saja kenyamanan kita sebagai warga terganggu, tetapi juga bisa menjadi sumber penyakit, atau bahkan menjadi sebab ketidak harmonisan bertetangga dalam satu lingkungan.

Sebenarnya kalau kita tahu caranya, sampah dapat kita kelola sendiri, asalkan dengan beberapa syarat :

1. adanya komitment bersama antar warga perumahan untuk memisahkan antara sampah basah dan sampah kering, ( sampah basah adalah sampah yang berasal dari sisa sisa bahan makanan, atau yang berasal dari tanaman atau mahluk hidup, sedangkan sampah kering, bisa berupa plastik, polybag, bekas bungkus mie instan,stereoform dll)

2. Adanya pengelola yang akan mengolah sampah rumah tangga tersebut, dan memprosesnya.

Pada tanggal 23 Januari 2011, pengurus RT 02 /13 dan beberapa warga melakukan kunjungan studi ke Perumahan Bukit waringin di Bojong gede, Bogor. Kunjungan ini bermaksud untuk belajar dan melihat langsung cara pengolahan sampah mandiri yang dilakukan oleh warga perumahan bukit waringin.

Dari hasil kunjungan ini dapat disimpulkan bahwa pengolahan sampah rumah tangga dapat dilakukan secara mandiri, baik secara perorangan, maupun secara kolektif, namun akan lebih baik bila dilakukan secara kolektif karena akan lebih praktis dan dalam volume yang lebih besar.

Selain daripada itu dari hasil pengolahan sampah rumah tangga ini akan dihasilkan produk Kompos yang berkualitas tinggi yang berasal dari sampah basah, serta sisa sampah kering yang dapat kita proses lebih lanjut, menjadi produk kerajinan atau bisa langsung dijual.

Cara cara pengolahan sampah rumah tangga

Setelah proses pemisahan antara sampah basah dan sampah kering yang dimulai dari masing masing rumah warga, proses selanjutnya adalah mengumpulkan kedua jenis sampah tersebut di suatu tempat, dapat berupa Fasum/Fasos yang biasanya tersedia disetiap perumahan, kemudian dapat dilakukan tahap tahap sebagai berikut :

1. Sampah kering dipisahkan berdasarkan jenisnya, plastik, logam, kaca, dikelompokan dalam satu jenis yang sama.

2. Sampah basah yang sudah dipisah oleh warga sebelum proses pembusukan harus dilakukan pencacahan terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan agar material sampah bisa lebih kecil dan bisa membusuk lebih cepat.

3. Sampah basah yang sudah dicacah dimasukan kedalam tong yang telah di lubangi di sekelilingnya, sebagai jalan masuknya oksigen (O2), ingat pelajaran biologi, setiap proses pembusukan selalu membutuhkan dua unsur, oksigen dan bakteri pengurai. Dan jangan lupa, lubang udara yang dibuat, harus di pasang kawat kasa, dengan maksud mencegah lalat masuk melalui lubang tersebut.

4. Tong yang sudah dilubangi dan berisi sampah basah kita masukan kedalam lubang tanah, yang sekelilingnya kita pasang ijuk, supaya air Rindit ( air rembesan dari sampah basah, air ini juga dapat sebagai aktifator untuk proses pembusukan) tidak langsung merembes kedalam tanah.

5. setelah kurang lebih selama 3 minggu, sampah dalam tong dapat dikeluarkan untuk dilakukan pengeringan/ diangin anginkan.

6. Sampah yang telah kering, sudah menjadi kompos bermutu tinggi, namun sebelum di lakukan packing, sampah kering tersebut harus dilakukan pengayakan agar yang masih berbentuk besar dapat kita pisahkan.

7. Setelah proses pengayakan, akan kita dapatkan hasil ayakan yang lebih kecil, inilah yang akan kita Packing.

8. proses packing, dan kompos kualitas tinggi siap untuk dipakai maupun dipasarkan

9. Material kompos yang lebih besar dapat digunakan untuk pakan ikan, yang bermutu tinggi, atau dapat kita giling, sehingga menjadi kecil kecil, siap untuk dipacking seperti point 7.

cabut berkas BPKB untuk mutasi (bagian 1)


Saya hanya ingin sedikit berbagi pengalaman saya, berhubungan dengan “publik service” di Indonesia, yaitu Polda metro jaya.
Dengan alasan tidak mau memperpanjang KTP DKI, dan hendak pindah ke Kabupaten Bogor, maka satu satunya cara supaya kendaraan saya tercatat di arsip negara, adalah memindahkan ” domisili” kendaraan saya tersebut.
Awalnya sempat bingung juga, karena selama ini, kalo bayar pajak dan perpanjang STNK, saya selalu menggunakan biro jasa.
Tapi setelah browsing – browsing ternyata cukup mahal juga, Rp 650.000, bro…khan lumayan mahal, masak cuman cabut berkas aja sampai segitu.
Akhirnya dengan Bismilah, saya “nekat” datang ke Polda, tentu saja dengan menyerahkan dokumen STNK dan BPKB kendaraan kita, ternyata urutan urutannya adalah sebagai berikut :
1. Check Fisik, kendaraan kita akan di “esek-esek “, / he..he.. kayak mesum aja.., nomor rangka dan nomor mesinnya, disini kita diharapkan memberi tip kepada petugasnya antara Rp 5000- Rp 10.000, walaupun tidak tertulis tarif resmi.
2. Hasil “esek- esek ” tadi kita bawa dan serahkan ke loket yang letaknya tidak jauh dari lokasi check fisik. setelah menunggu kurang lebih setengah jam, proses dokumen check fisik selesai, kita akan dipanggil, dengan diminta menyerahkan uang Rp 30.000. (jangan lupa pindahkan kendaraan kita dari lokasi esek esek tersebut, maklum tempatnya gak bitu luas sementara yang mau check fisik, biasanya harus mengantri)
3. Setelah check fisik selesai, kita diminta ke gedung samsat, untuk menyerahkan dokumen- dokumen tadi, jangan lupa dokumen dokumen dari hasil check fisik, STNK, dan BPKB, kita photocopy dulu. Setelah menyerahkan ke petugasnya, kita akan diberikan tanda terima berkas, dengan menyerahkan uang Rp 200.000. (note: tanda terimanya tidak ada tulisan nominal Rp.200.000.)
4. Proses pertama selesai, dan kita akan diminta datang lagi sebulan kemudian.
5. Setelah satu bulan, sambil membawa tanda terima, (point 3), kita serahkan kebagian pengambilan berkas.
6. Setelah menerima berkas, kita diharuskan bayar fiskal, besarnya tergantung kendaraan kita, (pindah gedung lagi),
7. setelah membayar fiskal, kita diminta ke bagian arsip, untuk menyerahkan berkas berkas tadi., ( disini saya dimintai uang , sambil petugasnya, berbisik” sepuluh ribu aja”,
8. proses cabut berkas selesai, tinggal mendaftarkan di tujuan / kota untuk mutasi

Cukup murah, dibandingkan apabila kita ke birojasa, atau calo, tapi kalo ada waktu, kenapa kita nggak ngurus sendiri..yah.. itu tinggal pilihan kita masing masing.., semoga bermanfaat.

Pulang


Ketika waktu tlah usai,daan keringat masih melumuri tubuh,
Sementara suami, anak, atau mungkin kerabat setia menunggu, aku harus pulang,
walau jalan terasa terjal, tapi perjalanan harus ditempuh, entah sampai kapan,
biarlah putaran tangan Nasib dan waktu yang akan menuntunnya.

Kangen


Lama kau tak kucumbu
lama kau tak kusentuh,
Lekuk dan terjalmu,
jejak jejak lama yang mungkin sudah terhapus.
namun hembusan dingin anginmu, serta suara gemuruhmu.
membangkitkan kerinduan yang semakin membuncah.
Pokok kayu pinus, patung sapi, serta tenda tenda berlapis embun.
deretan warung kopi, mushola serta loket masuk menjelang pintu gerbang, silih berganti berkelabat di otaku. seakan hadir bersama teman teman, senior, junior, pisuhan, yang keluar dari mulut teman penuh keakraban, seperti terdengar kembali mengiang dikedua telingaku.
Tetes peluh yang kuusap dengan punggung tanganku, dan beban Carrier yang menempel dipunggungku kembali bergayut, menyatu disetiap langkahku.
Aku kangen, aku rindu suasana itu, Coban rondo, Himakpa, ITN Malang,kau pernah dan akan selalu menjadi bagian dalam setiap perjalanan hidupku. Dirgahayu HIMAKPA,
Tak terasa, dua butir kristal bergulir dari sudut mata.
Aku disini, bersama teman teman yang lain, akan mencoba hadirkan suasana itu, meski mungkin tak sesempurna di Coban rondo.

Luka itu teramat dalam


Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2009 yang lalu, sebenarnya kejadian ini biasa biasa saja, yaitu tentang pertengkaran antar kakak beradik yang memperebutkan mainan.
Ketika itu sang kakak yang berumur 6 tahun mencoba merebut mainannya yang sedang dipinjam Adik perempuannya, namun rupanya si Adik, umur 1,5 tahun, masih ingin bermain dengan mainan kakaknya dengan menyembunyikan mainan itu di balik punggungnya, ” Keisha…!!” bentak sikakak,
merasa di bentak, si adik semakin ngotot mempertahankan mainannya, terjadilah rebutan mainan antar mereka.
Aku yang melihat kejadian itu langsung melerai mereka, sambil berkata, “Kakak khan udah besar, De’ Keisha mo pinjem sebentar, Kakak harus ngalah dan jangan suka membentak Adik..”, bujukku menenangkan si kakak. Tapi apa jawabanya sungguh diluar dugaanku, ” Ayah juga waktu aku masih kecil, suka bentak -bentak Adhis”, Deg..!, perasaanku tercekat mendengar alasan spontan anak laki lakiku ini.
Dulu pada waktu dia masih kecil, dan sedang belajar bicara, Aku memang sering kurang sabar menghadapi anaku ini, aku membentaknya hanya supaya dia mematuhi keinginanku, hingga ketika dia mulai belajar bicara, sering ia tergagap gagap ketika bicara, terutama apabila mengucapkan kata kata yang berawalan huruf tertentu.
Sampai suatu ketika aku dan istriku sepakat membawa anaku ini ke seorang Psikiater di daerah Cibubur Jakarta timur. Namun si psikiater tidak menemukan kelainan pada anaku, kecuali hyperaktifnya, yang masih normal.
Alhamdulilah ya Allah, kau masih memberiku kesempatan memperbaiki kebodohan dan kecerobohanku,
Sambil kupeluk, aku bisikan ditelinga anaku, ” maafkan ayah ya…, tiba tiba dua butir kristal bening mengalir dari sudut matanya..juga disudut mataku.Adhis dan keisha

Ngupil


Barangkali banyak persepsi yang berkelabat diotak kita begitu mendengar kata yang satu ini, ya..ngupil, mulai persepsi jorok, geli, atau mungkin asyik, bagaimana tidak, kegiatan yang tidak bisa dikerjakan disembarang tempat dan sembarang waktu ini memang terkadang asyik sekaligus melenakan.
tapi kalau kita telisik lebih lanjut, kegiatan ngupil ini sebenarnya tidak terlalu beda dengan misalnya cuci tangan,Mandi,atau mungkin, maaf, cebok.
Karena kegiatan ini intinya adalah bersih bersih diri. titik
Yang jadi masalah adalah waktu dan tempat yang terkadang kurang tepat, coba bayangkan kalau misalnya aktifitas yang mengasikan ini kita lakukan pada saat jamuan makan malam, atau dalam acara lamaran dihadapan calon mertua.
Jadi intinya adalah apapun kegiatannya tempatkan segala sesuatunya pada waktu dan tempat yang sesuai proporsinya.

Cara menjadi warga Kampung/ perumahan yang baik


Sebagai manusia sosial kita tidak bisa lepas dari namanya bergaul dengan sesama, begitu pula dalam pergaulan disekitar rumah kita.
Apabila kita menempati rumah baru atau wilayah baru, berarti status kita adalah sebagai pendatang, Kita akan dihargai apabila kita segera melapor ke RT setempat, karena kalau tidak, bisa bisa kita dicurigai sebagai orang yang asosial, alias tidak mau bersosialisasi, atau lebih gawat lagi kita dicurigai sebagai teroris..Nah..lebih gawat khan..
Laporkanlah diri kita ke RT setempat dengan membawa surat surat identitas kita, atau lebih lengkap lagi disertai surat pindah/ surat pengantar dari TR kita sebelumnya, tidak lupa tanyakan kepadapengurus RT, mengenai peraturan yang berlaku di lingkungan RT, serta kewajiban warga yang harus dipatuhi, iuran bulanan, ijin keramaian apabila kita ada hajat dan lain sebagainya.
dengan cara cara tersebut diatas, niscaya kita akan selalu diterima dilingkungan manapun.

Mari selamatkan anak – anak kita


 

Semenjak adanya kotak ajaib yang bernama Televisi, Dunia telah berubah, karena dengan televisi kejadian yang terjadi di belahan dunia lain dapat kita lihat, dan dapat masuk keruangan kita tanpa permisi lagi, terlebih dengan adanya TV berlangganan, maka arus informasi makin cepat dan tidak terbendung. Hal ini disadari atau tidak telah merubah pola pikir kita, emosi kita, bahkan tanpa kita sadari, batas batas atau nilai nilai kesopanan kita telah bergeser menjadi lebih permisif. Apalagi anak anak yang nota bene secara logika masih belum dapat mempertimbangkan apakah yang dia lihat sesuai dengan norma agama, norma sosial atau budaya yang kita anut atau tidak. mereka hanya melihat dan itu akan ditiru mereka secara instan (ingat kasus smack down, yang sekarang tidak tayang lagi).
Terlebih kemajuan teknologi Selular, yang semakin canggih saja, dimana kita dapat saling berkirim gambar dan video yang bisa dilakukan siapa saja (dengan ongkos yang murah).Apalagi dengan dihebohkannya kasus selebritis kita “A” PTP dengan LM, atau juga CT, seorang presenter infotaintment, semakin membuat tugas kita sebagai orang tua semakin berat, karena gempuran informasi yang tidak selamanya positif ini semakin gencar meracuni otak anak anak kita.
Oleh karena itu, mari kita bersama sama memfilter serangan informasi ini dengan lebih memperhatikan anak anak kita, mendampingi anak anak kita pada saat menonton televisi, atau menjadwalkan jam jam tertentu yang bisa dilihat oleh anak anak.
Selain itu juga perlu dipertimbangkan apakah perlu anak anak kita memegang HP yang begitu canggihnya sehingga mereka dapat mengakses situs situs yang tidak siap buat perkembangan perilaku mereka.
Mari kita lindungi buah hati kita dengan bekal yang baik untuk mereka, demi masa depan anak anak kita, juga masadepan bangsa kita, kita mulai dari rumah kita, dari diri kita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.